Di sebuah kamar, cahaya terang mendadak menyala, menyilaukan seisi ruangan sejenak sebelum lenyap seiring padamnya portal teleportasi yang baru saja ditutup Lynx.

Lynx dan Leena berdiri tenang, mata mereka menyapu sekeliling ruangan. Dindingnya terbuat dari kaca hitam yang berkilau, nyaris seperti cermin gelap. Di sepanjang ruangan, puluhan kapsul tidur berjajar rapi. Masing-masing hanya cukup untuk satu orang, desainnya ramping dan minimalis, khas dunia teknologi tinggi.

Ratih mengedarkan pandangan, alisnya sedikit terangkat. Meskipun ini pertama kalinya ia berada di ruangan ini, namun dia bisa menebak jika mereka berada diruang istirahat para pasukan.

"Apakah ini didalam markas rahasia?" gumamnya dalam hati, "Bagaimana mungkin mereka bisa masuk semudah ini? Apa itu tadi... teleportasi?"

Kanaya berdiri tegak dengan tatapan tajam, nada bicaranya dingin. "Aku tidak menduga kamu menggunakan cara ini untuk menghindari pertahanan mereka, Lynx. Tapi jangan senang dulu. Kesulitan kalian dimulai dari sini."

"Kanaya benar," sela Ratih, kini suaranya terdengar lebih tajam namun penuh minat. "Kalian muncul di tempat istirahat pasukan. Di ruangan ini, tidak ada kamera pengawasan. Tapi begitu keluar, kalian akan menghadapi sistem pengamanan kelas militer. Setiap lorong dipenuhi sensor, dan setiap pintu adalah logam biometrik superpadat. Tak ada yang bisa membukanya tanpa retina, sidik jari, atau analisis suara yang tepat."

Lynx menatap pintu geser di seberang ruangan, diam, seolah sedang menimbang sesuatu. Ratih melihat itu dan melangkah mendekat, nada suaranya kini lebih serius.

"Lihat dinding ini," katanya sambil menyentuh permukaan kaca hitam itu dengan ujung jarinya. "Kelihatannya halus seperti kaca, tapi ini lapisan baja nanokomposit. Bisa menyerap radar dan tahan ledakan tingkat tinggi. Jangan berpikir bisa menghancurkannya."

Lynx berdiri membisu, matanya tampak kosong namun dalam. Ia mengaktifkan Mata Langi untuk melihat menembus materi dan ruang, memindai setiap sudut markas dalam hitungan detik.

Namun setelah beberapa saat, alisnya mengerut. Matanya yang tajam kini dipenuhi amarah yang ditahan.

"Apa kau menipuku?" Suaranya rendah tapi menggema, mengandung tekanan. "Aku sudah memeriksa seluruh ruangan… tapi tak ada jejak Lala."

Kanaya menyilangkan tangan, ekspresinya datar, sinis. "Tentu saja dia tidak ada di sini. Ini ruang istirahat pasukan. Lala dikurung di tempat lain."

Lynx menatap tajam, nadanya meninggi. "Aku sudah memindai ruangan lain juga. Tetap tak kutemukan dia."

Mendengar itu, Kanaya dan Ratih saling melirik dengan bingung. Di kepala mereka muncul pertanyaan yang sama. "Apa maksudnya sudah memindai ruangan lain? Bukankah dia sejak tadi tidak bergerak dari tempat ini?Mungkinkah dia bisa melihat menembus dinding?"

Tiba-tiba, Lynx melangkah maju dan meraih kerah baju Kanaya dengan satu tangan. Gerakannya cepat dan mendadak. Ia mengangkat Kanaya beberapa sentimeter dari lantai, suaranya kini seperti guruh.

"Katakan… di mana mereka mengurung Lala. Kalau kau berani mempermainkanku, aku bakar kau hidup-hidup."

Tangan kirinya terangkat perlahan. Api biru menyala dari telapak tangannya. Lynx menggunakan api spiritual untuk mengancam Kanaya.

Kanaya ternganga, pupil matanya mengecil. Bahkan Ratih, yang selama ini tenang, mundur satu langkah, napasnya tertahan.

"Seberapa banyak kekuatan yang dimilikinya?" Batin Ratih.

Tidak lama, Kanaya mulai bisa bersikap tenang menghadapi ancaman Lynx. Dia mulai memahami karakter Lynx dalam waktu singkat, sehingga dia tetap menjaga ekspresi wajahnya datar. Ia mengingat seluruh pasukan yang dibawanya, termasuk tim The Hunter. Semuanya dalam keadaan baik, tidak ada yang terbunuh. Ia juga yakin Sandrage selamat, mengingat kekuatan pasir yang dimilikinya cukup untuk bertahan dalam situasi apa pun. Kanaya percaya Lynx tidak akan membunuhnya, tetapi ia tetap waspada. Ia tidak ingin mengalami penyiksaan lagi seperti sebelumnya, dan kali ini ia akan lebih berhati-hati.

"Aku tahu kamu punya kekuatan, tapi... apakah memang sifat aslimu suka menyiksa seseorang? Terlebih lagi aku ini seorang wanita," ucap Kanaya pelan, suaranya terdengar lembut dengan sedikit menggoda. Matanya menatap lurus ke arah Lynx, mencoba membaca ekspresinya, mencari celah dalam dinginnya sikap pria itu.

Dalam hati, Kanaya mulai memikirkan sebuah rencana. Ia akan memanfaatkan Lynx untuk membunuh Komandan Vex, pria kejam yang mengkhianati janjinya. Vex pernah berjanji akan membebaskannya jika ia berhasil menangkap Lala, namun janji itu kosong.

Di mata orang lain, Kanaya adalah tangan kanan Vex yang dipercaya. Namun kenyataannya, ia hanya boneka, dikendalikan penuh dan bisa dibunuh kapan saja. Tubuhnya telah ditanami perangkat nano yang bisa diaktifkan Vex untuk mengakhiri hidupnya dalam sekejap, tanpa peringatan.

Lynx memandangi wanita di depannya dengan sorot mata curiga. Ia tahu, sebagai pembunuh bayaran, wanita ini pasti bukan orang biasa. Ia pasti telah melewati banyak pertempuran, penuh tipu daya dan kelicikan. Senyum sinis muncul di sudut bibirnya. "Kamu tidak perlu banyak bicara. Kalau aku mau, aku bisa membaca pikiranmu. Tapi setelah menggunakan cara itu, kamu pasti mati karena tidak kuat menahannya," katanya dengan suara rendah dan dingin, nada suaranya mengandung ancaman yang nyata. "Aku hanya menahan diri karena tidak ingin membunuh, kecuali memang harus."

"Lynx bisa melakukan hal itu? Kenapa aku tidak pernah tahu dia punya kemampuan seperti itu?" gumam Leena dalam hati, matanya melebar sedikit. "Ternyata masih banyak hal tentang dia yang belum kuketahui."

Mendengar ucapan Lynx, Kanaya diliputi rasa takut. Ia tahu para kultivator memiliki banyak kemampuan aneh dan luar biasa yang tak bisa dijelaskan logika, seperti kemampuan teleportasi yang baru saja dilakukan Lynx sebelumnya.

"Baik, baik, aku akan mengatakannya. Aku akan membantumu, tapi... bisakah kamu juga membantuku sebagai gantinya?" ujar Kanaya sambil berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang. Wajahnya memancarkan harap, meski tubuhnya sedikit gemetar.

"Kamu berani menawar denganku?" bentak Lynx, ekspresinya berubah dingin. Dengan gerakan cepat, ia menggambar garis-garis formasi di udara, menciptakan simbol yang bersinar samar. "Aku akan mengambil ingatanmu sekarang."

"Jangan, jangan! Aku akan bilang, aku akan bilang!" teriak Kanaya panik. "Lala ada di laboratorium bawah tanah bangunan ini. Untuk ke sana, kita harus menggunakan lift khusus yang hanya bisa dioperasikan oleh beberapa orang tertentu. Bahkan para peneliti pun tidak diizinkan keluar dari tempat itu demi menjaga kerahasiaan."

"Kamu akan menyesal kalau berani membohongiku," ujar Lynx tajam, lalu membalikkan badan dan menatap Leena yang berdiri tak jauh dari mereka.

"Tunggu," suara Kanaya terdengar lagi, memanggil cepat.

"Apa lagi?" tanya Lynx, nada suaranya mulai jengkel.

"Aku hanya ingin satu hal. Tolong lepaskan perangkat nano yang ditanam Komandan Vex di tubuhku. Aku tahu kamu bisa melakukannya. Aku melihatmu melakukannya pada tubuh Lala waktu itu," pinta Kanaya, sorot matanya penuh harap dan keputusasaan.

Lynx terdiam. Tatapannya menajam, namun ia tak memberi jawaban. Dalam hati, ia teringat sesuatu. "Bagaimana dia tahu soal itu? Apakah perasaan yang sempat aku rasakan sebelumnya, saat merasa diawasi, ternyata benar?"

Tanpa berkata apa-apa lagi, Lynx berbalik dan menghampiri Leena.

"Lynx, sejak kapan kamu punya kemampuan membaca pikiran?" tanya Leena curiga, matanya menatap tajam.

"Aku cuma bercanda untuk menakutinya," jawab Lynx singkat. "Bersiaplah. Bantu aku temukan Lala."

"Apa yang akan kamu lakukan?" Leena menyipitkan mata, mencoba membaca maksudnya.

"Kita menjemput Lala," jawab Lynx dengan suara mantap dan penuh keyakinan.

Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, tubuhnya mendadak goyah. Ia terjatuh, wajahnya menunjukkan keterkejutan. Tubuhnya melemas, dan rasa sakit menyelinap perlahan. Tatapannya terarah ke Ratih, yang berdiri sambil memegang sebuah benda kecil berwarna hijau dengan cahaya redup.

"Apa yang kamu lakukan?" bentak Leena geram. Dalam sekejap, ia menendang Ratih dengan keras hingga tubuh gadis itu terpental dan menabrak dinding.

"Hentikan, Leena," ujar Lynx yang sudah bisa berdiri kembali. Ia memungut benda yang terlepas dari tangan Ratih dan mengamatinya sejenak.

"Batu ini... meyakitiku dan membuat sebagian kekuatanku mendadak hilang, membuatku terasa lemah," pikirnya. "Baru kali ini aku harus menggunakan energi sakti hanya untuk menstabilkan tubuhku. Aku harus mempelajari batu ini."

Ia menyimpan benda itu, sebuah liontin dengan inti batu yang tertanam di balik lapisan aluminium, ke dalam cincin penyimpanannya, matanya masih mengawasi Ratih yang kini terdiam.

"Bersiaplah," kata Lynx tanpa menoleh, mengabaikan Kanaya dan Ratih yang masih tergeletak menahan sakit akibat tendangan Leena.

Alih-alih repot memikirkan cara menerobos masuk dengan strategi rumit, Lynx memilih cara yang lebih mudah. Ia melepaskan energi spiritual ke dalam tanah, membiarkannya menyebar cepat dan menelusuri struktur bangunan bawah tanah. Begitu ia mengetahui bentuk dan posisi bangunannya secara menyeluruh, ia melompat lalu menerobos masuk dengan mudah menembus permukaan tanah melewati berbagai dinding tebal nanokomposit yang tidak bisa dihancurkan.

Tak lama kemudian, tanah di sekitar bangunan mulai bergetar hebat. Suara gemuruh merambat ke segala arah, menimbulkan kepanikan di antara pasukan Komandan Vex yang berjaga di luar. Mereka berteriak bingung, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

Namun sebelum mereka sempat bereaksi lebih jauh, bangunan rahasia yang tersembunyi rapat di bawah tanah itu melayang ke udara. Dalam hitungan detik, markas tersebut melesat ke langit dan menghilang dari pandangan, menyisakan debu dan kebingungan di antara para penjaga yang hanya bisa terpaku tanpa mengerti apa yang baru saja terjadi.

